BBCA Diburu Asing, Prospek Saham BCA Makin Menarik 2026

Fundamental BBCA Masih Menjadi Kekuatan Utama

Investor Asing Mulai Koleksi BBCA di Tengah Penguatan IHSG

BBCA diburu asing pada awal pekan setelah pasar saham Indonesia kembali menunjukkan penguatan yang cukup solid. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,71% ke level 6.206,34 pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Kenaikan ini didukung oleh meningkatnya minat beli pada sejumlah saham unggulan meskipun investor asing secara keseluruhan masih mencatatkan net sell sebesar Rp2,22 triliun di seluruh pasar.

Menariknya, di tengah aksi jual tersebut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru masuk dalam daftar saham dengan net buy asing terbesar. Investor asing membukukan pembelian bersih senilai Rp64,63 miliar pada saham BBCA. Selain BBCA, saham perbankan lain seperti BBRI juga menjadi incaran investor global. Kondisi ini menunjukkan bahwa saham-saham perbankan besar masih dianggap memiliki fundamental yang kuat dan prospek jangka panjang yang menarik.

BBCA Tetap Direkomendasikan Beli oleh Analis

Meskipun harga saham BBCA sempat mengalami tekanan, sejumlah analis masih mempertahankan rekomendasi beli. MNC Sekuritas tetap memberikan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp8.700 per saham. Walaupun target tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar Rp10.500, potensi kenaikan harga masih sangat besar dibandingkan posisi pasar saat ini.

Analis menilai kinerja operasional BCA masih sangat solid. Pertumbuhan laba operasional, efisiensi bisnis yang terus meningkat, serta posisi modal yang kuat menjadi faktor utama yang menopang prospek perseroan. Selain itu, kualitas kredit yang terjaga dan dominasi dana murah atau CASA membuat BBCA tetap berada dalam posisi kompetitif dibandingkan bank-bank besar lainnya di Indonesia.

BBCA Tetap Direkomendasikan Beli oleh Analis

Tekanan MSCI Dinilai Hanya Bersifat Sementara

Salah satu faktor yang sempat menekan harga saham BBCA adalah proses rebalancing indeks MSCI. Pada akhir Mei 2026, banyak investor institusi global melakukan penyesuaian portofolio sehingga memicu aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA. Akibatnya, saham BBCA sempat turun hingga 4,60% ke level Rp5.700 per saham.

Namun demikian, para analis menilai tekanan tersebut lebih bersifat teknikal daripada fundamental. Setelah proses rebalancing selesai, perhatian pasar kembali tertuju pada kualitas bisnis perusahaan. Karena BBCA memiliki tingkat likuiditas tinggi dan bobot besar dalam pasar modal Indonesia, saham ini sering menjadi instrumen utama dalam proses penyesuaian portofolio investor global. Oleh sebab itu, pelemahan yang terjadi tidak mencerminkan perubahan kondisi bisnis BCA secara keseluruhan.

Fundamental BBCA Masih Menjadi Kekuatan Utama

Fundamental BBCA tetap menjadi alasan utama mengapa banyak investor mempertahankan minat terhadap saham ini. BCA dikenal memiliki profitabilitas yang konsisten, rasio kredit bermasalah yang rendah, serta likuiditas yang sangat kuat. Selain itu, perusahaan berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026 yang berpotensi meningkatkan daya tarik saham bagi investor jangka panjang.

Prospek pertumbuhan laba juga masih positif. Sejumlah riset memperkirakan laba bersih BBCA dapat tumbuh sekitar 7,4% sepanjang 2026. Pertumbuhan kredit yang stabil serta kemampuan perusahaan menjaga kualitas aset menjadi faktor pendukung utama. Jika arus keluar dana asing mulai mereda, saham BBCA memiliki peluang untuk melanjutkan pemulihan harga dalam beberapa bulan mendatang.

Fundamental BBCA Masih Menjadi Kekuatan Utama

Aturan Valas Baru dan Prospek BBCA ke Depan

Selain perkembangan saham, BCA juga resmi menerapkan aturan baru terkait transaksi valuta asing mulai 2 Juni 2026. Berdasarkan ketentuan terbaru, batas pembelian valas tunai diturunkan dari maksimal setara US$50.000 menjadi US$25.000 per bulan untuk setiap nasabah. Kebijakan ini mengikuti regulasi terbaru dari Bank Indonesia yang bertujuan memperkuat stabilitas pasar valuta asing nasional.

Di sisi lain, BCA juga tengah menjalankan program buyback saham hingga Rp5,06 triliun yang berlangsung sampai Maret 2027. Program ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang perusahaan. Dengan dukungan fundamental yang kuat, proyeksi pertumbuhan laba yang positif, serta berbagai langkah strategis perusahaan, BBCA diburu asing dan tetap menjadi salah satu saham perbankan paling menarik untuk dicermati investor pada tahun 2026.

-12%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.760.000.

👁 1368 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 1584 kali

-5%
Original price was: Rp950.000.Current price is: Rp902.500.

👁 2053 kali

-5%
Original price was: Rp1.000.000.Current price is: Rp950.000.

👁 1133 kali

👁️ Dilihat 13 kali