JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang 2026. Dari posisi puncaknya pada awal tahun, IHSG tercatat merosot sekitar 38 persen. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terdalam dalam sejarah pasar modal Indonesia. Bahkan, kondisinya dinilai lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19.
Akibat tekanan yang terus berlanjut tersebut, penurunan IHSG semakin dalam dalam beberapa pekan terakhir. Pada awal Juni 2026, IHSG sempat turun ke kisaran 5.889 poin. Dalam sehari, indeks terkoreksi hampir 5 persen. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal nasional.
Tekanan Beruntun dari Dalam dan Luar Negeri

Tidak hanya itu, sejumlah faktor domestik dan global turut memperbesar tekanan terhadap pasar saham Indonesia. Sejumlah analis menilai pelemahan IHSG tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan hasil akumulasi sentimen negatif yang berkembang dalam beberapa bulan terakhir.
Investor global mencermati isu tata kelola dan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia. Beberapa lembaga pemeringkat internasional bahkan memberikan outlook negatif terhadap perekonomian nasional. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan derasnya arus keluar modal asing turut memperburuk sentimen pasar.
Selain faktor tersebut, sentimen negatif dari pasar internasional juga memberikan dampak yang signifikan. Di sisi lain, keputusan MSCI dan FTSE Russell untuk meninjau ulang sejumlah saham Indonesia memicu aksi jual investor asing. Rebalancing indeks membuat dana global mengurangi eksposurnya di Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap IHSG semakin besar.
Kinerja Terburuk Sejak Era Pandemi
Dengan kondisi tersebut, banyak pihak mulai membandingkan pelemahan IHSG saat ini dengan krisis pada masa pandemi Covid-19. Banyak pelaku pasar menilai koreksi tahun 2026 menjadi salah satu yang paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, kondisi saat ini berbeda dengan masa pandemi. Koreksi tahun 2026 terjadi tanpa guncangan global sebesar Covid-19. Karena itu, penurunan IHSG dinilai lebih mengkhawatirkan. Kondisi tersebut dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang memengaruhi kepercayaan investor.
Beberapa analis menilai investor mulai mempertanyakan prospek ekonomi Indonesia. Mereka juga mencermati konsistensi kebijakan pemerintah. Di samping itu, investor memperhatikan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan meningkatnya ketidakpastian pasar. Sentimen tersebut membuat pasar Indonesia tertinggal dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya.
Investor Menanti Momentum Pemulihan

Meskipun demikian, sejumlah pelaku pasar masih melihat peluang pemulihan dalam beberapa bulan ke depan. Investor menunggu hasil evaluasi pasar Indonesia oleh MSCI dan FTSE Russell. Hasil evaluasi tersebut berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke dalam negeri.
Sementara itu, stabilitas rupiah menjadi faktor penting bagi pasar. Kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah juga akan menentukan arah IHSG. Hingga saat ini, pasar masih bergerak volatil. Kondisi tersebut terjadi karena tingginya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Oleh karena itu, langkah pemerintah dan otoritas keuangan akan menjadi perhatian utama investor. Pelaku pasar berharap berbagai kebijakan yang diterapkan mampu mengembalikan kepercayaan investor. Mereka juga berharap arus modal asing kembali masuk ke pasar domestik.
Pada akhirnya, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik. Langkah itu penting sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan strategi yang tepat dan kebijakan yang konsisten, pasar modal Indonesia diharapkan dapat pulih dalam jangka menengah hingga panjang.
👁 1420 kali
👁 1997 kali
👁 2449 kali
👁 1853 kali
👁️ Dilihat 17 kali





