TPIA Bagi Dividen Tunai US$30 Juta
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi menetapkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp6,07341 per saham. Keputusan tersebut diumumkan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada 19 Mei 2026. Total dividen yang dibagikan mencapai US$30 juta atau setara sekitar Rp529,98 miliar dengan kurs tengah Bank Indonesia sebesar Rp17.666 per dolar AS.
Dengan harga saham TPIA di level Rp3.120 per saham pada penutupan perdagangan 19 Mei 2026, estimasi dividend yield perseroan berada di kisaran 0,19%. Nilai yield tersebut memang relatif kecil, namun tetap menjadi perhatian investor karena menunjukkan komitmen perseroan dalam mendistribusikan laba kepada pemegang saham.
Perseroan juga membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$1,09 miliar hingga akhir 2025. Berdasarkan data tersebut, estimasi dividend payout ratio atau DPR TPIA berada di kisaran 2,75%.
Jadwal Dividen TPIA yang Perlu Dicermati Investor
Investor yang ingin mendapatkan hak dividen wajib memperhatikan jadwal cum dividen dan recording date yang telah ditetapkan perseroan. Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan berlangsung pada 25 Mei 2026, sedangkan ex dividen jatuh pada 26 Mei 2026.
Berikut jadwal penting dividen TPIA tahun buku 2025:
- Cum dividen pasar reguler dan negosiasi: 25 Mei 2026
- Ex dividen pasar reguler dan negosiasi: 26 Mei 2026
- Recording date: 29 Mei 2026
- Cum dividen pasar tunai: 29 Mei 2026
- Ex dividen pasar tunai: 2 Juni 2026
- Pembayaran dividen: 17 Juni 2026
Pembayaran dividen akan dilakukan melalui KSEI bagi investor yang menyimpan saham dalam penitipan kolektif. Perseroan juga menegaskan bahwa dividen akan dikenakan pajak sesuai aturan perpajakan yang berlaku untuk investor domestik maupun asing.
Laba Besar TPIA Ternyata Dipengaruhi Faktor One Off
Di balik pembagian dividen, kondisi fundamental TPIA justru menjadi perhatian pelaku pasar. Perseroan memang mencatat laba bersih fantastis sebesar US$1,09 miliar sepanjang 2025. Namun, sebagian besar keuntungan tersebut berasal dari keuntungan non operasional atau one off gain.
Keuntungan besar itu muncul setelah TPIA mencatat gain from bargain purchase sebesar US$1,87 miliar pasca akuisisi aset Shell di Singapura melalui Aster Chemicals and Energy (ACE). Sementara itu, bisnis inti petrokimia masih menghadapi tekanan akibat tingginya biaya bahan baku yang mencapai US$7,06 miliar.
Pada kuartal pertama 2026, TPIA mulai menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Pendapatan perseroan melonjak hampir 300% menjadi US$2,40 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, perusahaan berhasil membalikkan posisi rugi menjadi laba operasional sebesar US$146,13 juta.
Saham TPIA Anjlok Setelah Keluar dari MSCI
Tekanan terhadap saham TPIA semakin besar setelah muncul kabar bahwa emiten tersebut diperkirakan keluar dari indeks MSCI. Pengamat pasar menilai perubahan data kepemilikan saham membuat kapitalisasi pasar free float TPIA tidak lagi memenuhi ambang batas indeks global tersebut.
Dampaknya, saham TPIA mengalami tekanan jual besar-besaran di pasar sekunder. Dalam satu bulan terakhir, saham TPIA tercatat anjlok hingga 62,63% dan mengalami auto rejection bawah atau ARB selama lima hari berturut-turut.
Potensi keluarnya TPIA dari MSCI juga diperkirakan memicu arus dana asing keluar hingga Rp2 triliun. Kondisi tersebut membuat sentimen pasar terhadap saham Grup Barito semakin tertekan.
Meski begitu, manajemen tetap menjalankan pembagian dividen tunai sesuai keputusan RUPST yang digelar pada 13 Mei 2026.
Prospek TPIA Masih Bergantung pada Arus Kas dan Utang
Ke depan, investor diperkirakan akan lebih fokus pada kemampuan TPIA menghasilkan arus kas operasional yang sehat. Meskipun laba bersih terlihat besar, arus kas bebas perseroan justru tercatat negatif setelah dikurangi belanja modal.
TPIA membukukan arus kas operasi sebesar US$349,91 juta, sedangkan belanja modal mencapai US$729,07 juta. Kondisi tersebut membuat free cash flow perseroan defisit sekitar US$379,16 juta.
Selain itu, posisi utang bank jangka panjang TPIA meningkat menjadi US$4,14 miliar pada kuartal pertama 2026. Beban bunga juga naik tajam menjadi US$94,88 juta hanya dalam tiga bulan pertama tahun ini.
Meski menghadapi tekanan besar, TPIA masih memiliki total ekuitas sebesar US$4,66 miliar dan saldo laba ditahan sebesar US$1,71 miliar. Investor kini menunggu apakah ekspansi besar perseroan di Singapura mampu menghasilkan arus kas yang cukup untuk menopang pertumbuhan bisnis jangka panjang.
👁 1947 kali
👁 1199 kali
👁 1262 kali
👁 1819 kali
👁 1342 kali
👁 1748 kali
👁 2266 kali
👁 1673 kali
👁️ Dilihat 6 kali








