Kinerja SSIA 2026 Tumbuh Positif pada Kuartal Pertama
Kinerja SSIA 2026 mengalami peningkatan signifikan setelah PT Surya Semesta Internusa berhasil membalikkan kondisi rugi menjadi laba. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp89,01 miliar pada kuartal I-2026. Sebagai perbandingan, perusahaan masih membukukan rugi bersih Rp21,70 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba tersebut berjalan seiring pertumbuhan pendapatan perusahaan. Hingga akhir Maret 2026, pendapatan SSIA mencapai Rp1,44 triliun atau tumbuh 35% dibandingkan kuartal I-2025 sebesar Rp1,07 triliun. Kondisi ini menunjukkan strategi ekspansi bisnis perusahaan mulai memberikan hasil yang optimal.
Selain mencatat pertumbuhan pendapatan, perusahaan juga mampu menjaga profitabilitas dengan baik. Laba bruto SSIA melonjak hingga 125% menjadi Rp451,87 miliar. Oleh sebab itu, pasar mulai melihat SSIA sebagai emiten yang memiliki prospek pertumbuhan lebih stabil pada tahun 2026.
Bisnis Properti Menjadi Penopang Utama SSIA
Sektor properti menjadi motor utama pertumbuhan kinerja SSIA 2026. Pada kuartal pertama tahun ini, pendapatan dari lini properti meningkat hingga 202% menjadi Rp495 miliar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh tingginya permintaan lahan industri dan pengembangan kawasan Subang Smartpolitan.
Perseroan juga mencatat marketing sales sebesar 8,2 hektare lahan sepanjang kuartal I-2026. Sementara itu, accounting sales mencapai 20,6 hektare dengan kontribusi besar dari kawasan industri yang terus berkembang. Kondisi tersebut memperlihatkan minat investor terhadap kawasan industri SSIA masih sangat tinggi.
Tidak hanya itu, perusahaan masih memiliki backlog penjualan lahan sebesar Rp727 miliar. Dengan cadangan penjualan tersebut, SSIA berpeluang mempertahankan pertumbuhan pendapatan hingga akhir tahun. Karena alasan itu, sektor properti diperkirakan tetap menjadi sumber pertumbuhan utama perusahaan.
Sektor Hospitality SSIA Ikut Mengalami Lonjakan
Selain properti, sektor hospitality juga memberikan kontribusi besar terhadap kinerja SSIA 2026. Pendapatan hotel meningkat 59,2% secara tahunan berkat kenaikan tingkat hunian hotel milik perusahaan. Bahkan, pembukaan kembali Paradisus by Melia Bali pada Februari 2026 turut memperkuat pendapatan perseroan.
Peningkatan jumlah wisatawan asing ikut mendorong pertumbuhan bisnis perhotelan SSIA. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 3,4 juta orang pada kuartal I-2026. Angka tersebut meningkat 8% dibandingkan tahun sebelumnya sehingga menciptakan peluang besar bagi industri hospitality nasional.
Di sisi lain, rata-rata pengeluaran wisatawan asing yang lebih tinggi juga memberikan dampak positif terhadap pendapatan hotel. Dengan kondisi tersebut, SSIA diperkirakan masih mampu menjaga tren pertumbuhan sektor hospitality pada kuartal berikutnya.
Bisnis Konstruksi SSIA Tetap Stabil di Tengah Tantangan
Segmen konstruksi tetap menjadi penyumbang terbesar pendapatan perusahaan. Hingga kuartal I-2026, sektor jasa konstruksi memberikan kontribusi sebesar Rp788,64 miliar terhadap total pendapatan SSIA. Meskipun aktivitas proyek sempat melambat selama periode Lebaran, perusahaan tetap berhasil menjaga performa bisnisnya.
Anak usaha SSIA, PT Nusa Raya Cipta, berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp893 miliar. Proyek tersebut meliputi pembangunan pabrik Pou Chen di Pekalongan dan Lampung City Mall Tahap 2. Kehadiran proyek baru tersebut menunjukkan permintaan sektor konstruksi nasional masih cukup kuat.
Selain memperluas proyek baru, perusahaan juga terus menjaga efisiensi operasional. Dengan strategi tersebut, SSIA mampu mempertahankan stabilitas bisnis konstruksi di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis.
Saham SSIA Berpotensi Menguat Sepanjang 2026
Performa keuangan yang membaik membuat saham SSIA kembali menarik perhatian analis pasar modal. RHB Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp2.200 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 29% dibandingkan harga pasar saat ini.
Analis menilai kombinasi bisnis properti, hospitality, dan konstruksi menjadi kekuatan utama SSIA dalam menjaga pertumbuhan jangka panjang. Selain itu, valuasi saham SSIA dinilai masih cukup murah dibandingkan nilai aset perusahaan yang mencapai Rp12,89 triliun.
Ke depan, pengembangan kawasan industri, pertumbuhan sektor pariwisata, serta tambahan kontrak konstruksi diperkirakan akan menjadi katalis positif bagi perseroan. Dengan fundamental yang tetap solid, SSIA memiliki peluang besar untuk melanjutkan pertumbuhan laba dan meningkatkan kepercayaan investor sepanjang tahun 2026.
👁 1134 kali
👁 1151 kali
👁 1282 kali
👁 1677 kali
👁️ Dilihat 11 kali




