Saham BBCA Tertekan Akibat Aksi Jual Asing
Diskon Besar BBCA menjadi topik hangat di kalangan pelaku pasar setelah saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mengalami tekanan. Pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, saham BBCA turun 1,81% ke level Rp5.425 per saham. Selain itu, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp463,67 miliar dalam sehari. Sepanjang tahun 2026, tekanan jual asing bahkan mencapai lebih dari Rp31 triliun. Akibatnya, harga saham BBCA terkoreksi lebih dari 32% secara year to date dan kembali ke level yang pernah terlihat sekitar lima tahun lalu.
Valuasi BBCA Kini Terlihat Sangat Murah
Di tengah pelemahan harga, valuasi BBCA justru menarik perhatian investor jangka panjang. Berdasarkan data pasar, rasio Price to Book Value (PBV) BBCA berada di level 2,58 kali. Angka tersebut berada di bawah rata-rata standar deviasi historis tiga tahun terakhir yang mencapai 2,93 kali. Sementara itu, Price Earnings Ratio (PER) BBCA berada di kisaran 11,52 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya. Oleh karena itu, banyak analis mulai menilai bahwa Diskon Besar BBCA mencerminkan kondisi undervalued dibandingkan fundamental perusahaan yang masih kuat.
Fundamental BCA Tetap Menjadi Kekuatan Utama
Meskipun harga saham mengalami koreksi tajam, kinerja fundamental BCA masih menunjukkan ketahanan yang baik. Bank swasta terbesar di Indonesia tersebut tetap mencatatkan profitabilitas yang solid, kualitas aset yang terjaga, serta likuiditas yang kuat. Selain itu, basis dana murah atau CASA yang besar masih menjadi keunggulan kompetitif BCA dibandingkan banyak bank lainnya. Bahkan, perusahaan berencana membagikan dividen interim sebanyak tiga kali selama tahun 2026. Dengan demikian, investor memiliki potensi memperoleh pendapatan tambahan dari dividen sambil menunggu pemulihan harga saham.
Faktor Makroekonomi Menjadi Penyebab Utama Tekanan
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan BI Rate menjadi sentimen yang membebani sektor perbankan. Menurut sejumlah analis, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% sempat memicu kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan kredit. Di sisi lain, depresiasi rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS mendorong investor asing mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar domestik. Karena BBCA memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar, saham ini menjadi salah satu target utama aksi jual ketika sentimen pasar memburuk.
Saatnya Akumulasi Saham BBCA Secara Bertahap?
Banyak analis masih memandang positif prospek jangka panjang BBCA. Setelah tekanan rebalancing indeks dan aksi jual asing mereda, pasar diperkirakan akan kembali fokus pada kualitas fundamental emiten. Beberapa analis bahkan memberikan target harga BBCA di atas Rp8.000 per saham. Selain itu, secara teknikal BBCA mulai mendekati area support penting di kisaran Rp5.300. Oleh sebab itu, Diskon Besar BBCA saat ini dapat menjadi peluang akumulasi bertahap bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang. Namun demikian, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga, serta arus dana asing yang masih menjadi faktor utama pergerakan saham perbankan.
👁 1412 kali
👁 1609 kali
👁 1901 kali
👁 1731 kali
👁️ Dilihat 22 kali




