Saham BYAN Tembus ARA Usai Haji Isam Borong 30 Persen

Saham BYAN Tembus ARA Usai Haji Isam Borong 30 Persen

Harga BYAN Melonjak 19,96 Persen

Saham BYAN mencuri perhatian pasar pada perdagangan Jumat, 18 September 2026. Harga emiten batu bara tersebut naik 19,96 persen atau Rp2.300 menjadi Rp13.825 per saham. Kenaikan itu membawa BYAN ke level auto-rejection atas (ARA).

Sebelumnya, harga saham ditutup pada Rp11.525 pada perdagangan Kamis. Dengan demikian, harga bertambah Rp2.300 hanya dalam satu sesi perdagangan. Hingga pukul 10.09 WIB, nilai transaksi BYAN juga mencapai sekitar Rp158,21 miliar dengan volume 11,45 juta saham.

Haji Isam Masuk Lewat Jhonlin Baratama

Lonjakan tersebut muncul setelah PT Jhonlin Baratama menyepakati pembelian 10 miliar saham Bayan Resources. Perjanjian transaksi ditandatangani bersama Low Tuck Kwong dan Elaine Low pada 16 September 2026.

Berdasarkan jumlah saham perseroan sekitar 33,33 miliar lembar, transaksi tersebut setara dengan kurang lebih 30 persen kepemilikan. Namun, transaksi masih menunggu sejumlah persyaratan sebelum penyelesaian final.

Nilai pembelian juga belum diumumkan kepada publik. Sebagai gambaran, jika menggunakan harga penutupan Rp11.525, maka 10 miliar saham memiliki nilai sekitar Rp115,25 triliun. Angka tersebut hanya merupakan perhitungan berdasarkan harga pasar dan bukan nilai resmi transaksi.

Haji Isam Masuk Lewat Jhonlin Baratama

RKAB Menjadi Perhatian Pasar

Selain aksi korporasi, pasar juga mencermati perkembangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Sebelumnya, keterlambatan persetujuan revisi RKAB membuat perusahaan menghadapi ketidakpastian produksi. Kondisi tersebut bahkan mendorong perseroan menyatakan force majeure atas sebagian kewajiban pasokan batu bara.

Kemudian, muncul laporan bahwa Kementerian ESDM menerbitkan RKAB untuk Bayan Resources dan sejumlah anak usahanya. Berdasarkan laporan tersebut, kuota produksi berada di kisaran 38 juta ton. Jumlah itu masih lebih rendah daripada produksi sekitar 68 juta ton pada 2025.

Karena itu, kepastian RKAB menjadi faktor penting bagi operasional perusahaan. Pasar perlu melihat bagaimana kuota tersebut memengaruhi volume produksi dan penjualan hingga akhir 2026.

Moody’s Ubah Outlook Menjadi Negatif

Di tengah reli harga, Moody’s Ratings mengubah prospek Bayan Resources dari stabil menjadi negatif. Lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat Corporate Family Rating pada level Ba1.

Menurut Moody’s, perubahan outlook mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi. Risiko tersebut dapat membatasi volume tambang dan menekan laba apabila berlangsung lebih lama.

Namun, Moody’s juga mencatat kondisi kredit perusahaan masih kuat. Bayan memiliki neraca tanpa utang serta likuiditas yang dinilai memadai. Selain itu, arus kas internal diperkirakan tetap mendukung belanja modal dan pembayaran dividen.

Moody's Ubah Outlook Menjadi Negatif

Prospek Setelah Transaksi Jhonlin

Perubahan kepemilikan menjadi perhatian baru bagi investor. Masuknya PT Jhonlin Baratama membuat pasar menunggu perkembangan struktur pengendalian Bayan Resources setelah seluruh persyaratan transaksi terpenuhi.

Selain itu, investor akan mencermati harga pembelian 10 miliar saham tersebut. Informasi tersebut dapat memberikan gambaran mengenai valuasi yang digunakan dalam transaksi. Struktur tata kelola setelah transaksi juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Sementara itu, perkembangan RKAB tetap menjadi katalis penting bagi kinerja operasional. Jika kuota produksi dapat mendukung peningkatan volume, perusahaan memiliki ruang untuk menjaga produksi dan arus kas. Sebaliknya, keterbatasan kuota dapat mempertahankan tekanan terhadap prospek pendapatan.

Dengan demikian, penguatan saham BYAN pada 18 September mencerminkan respons pasar terhadap aksi korporasi dan perkembangan terbaru terkait operasional. Namun, dampak transaksi terhadap kinerja keuangan belum dapat disimpulkan hanya dari kenaikan harga satu hari. Pasar masih menunggu penyelesaian transaksi, pengungkapan nilai pembelian, struktur kepemilikan, serta perkembangan produksi perusahaan.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3585 kali

-5%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.900.000.

👁 2144 kali

-5%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.900.000.

👁 3444 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2486 kali

👁️ Dilihat 5 kali