Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp17.547

Ekonomi Domestik Masih Menopang Rupiah

Rupiah Ditutup Melemah

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, 10 September 2026. Rupiah berakhir di level Rp17.547 per dolar AS. Posisi tersebut turun sekitar 0,21 persen dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp17.511.

Pada awal perdagangan, rupiah berada di sekitar Rp17.512 per dolar AS. Setelah itu, tekanan terhadap mata uang domestik meningkat hingga akhir sesi. Data Refinitiv juga mencatat rupiah terdepresiasi sekitar 0,17 persen ke kisaran Rp17.530 per dolar AS.

Sementara itu, JISDOR Bank Indonesia mencatat kurs rupiah pada Rp17.536 per dolar AS. Perbedaan angka tersebut terjadi karena setiap indikator menggunakan mekanisme serta waktu pengukuran yang berbeda.

Meski terkoreksi, rupiah masih berada dekat dengan level terkuat dalam hampir 17 pekan terakhir. Karena itu, pelemahan pada Kamis lebih mencerminkan konsolidasi setelah penguatan cukup kuat pada perdagangan sebelumnya.

Investor Menunggu Data Inflasi AS

Pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi sikap hati-hati investor. Pelaku pasar memilih menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat sebelum mengambil posisi baru.

Data Producer Price Index (PPI) menjadi perhatian pada Kamis malam. Selanjutnya, pasar akan mencermati Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 11 September 2026.

Kedua indikator tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tekanan inflasi di AS. Selain itu, hasilnya bisa memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve atau The Fed.

Di sisi lain, indeks dolar AS atau DXY melemah sekitar 0,10 persen ke level 98,721 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan yen Jepang juga ikut menahan laju dolar karena pasar memperkirakan Bank of Japan berpotensi menaikkan suku bunga.

Namun, kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun hingga sekitar 4,84 persen masih menjadi faktor pendukung bagi aset berbasis dolar. Dengan demikian, pasar tetap berhati-hati menghadapi perubahan arah kebijakan moneter global.

Investor Menunggu Data Inflasi AS

Harga Minyak Menambah Tekanan

Selain faktor suku bunga, harga minyak dunia turut memengaruhi nilai tukar rupiah. Harga minyak Brent masih bertahan di atas US$100 per barel setelah mengalami kenaikan tajam pada perdagangan sebelumnya.

Lonjakan tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz juga meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai pasokan energi global.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong inflasi. Apabila harga energi bertahan tinggi, bank sentral global dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan biaya impor energi. Pemerintah pun terus memantau perkembangan harga minyak dunia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan APBN masih mampu menghadapi harga minyak hingga sekitar US$100 per barel. Pemerintah juga belum berencana menambah kuota subsidi energi.

Ekonomi Domestik Masih Menopang Rupiah

Dari dalam negeri, sejumlah indikator memberikan sentimen positif terhadap nilai tukar rupiah. Cadangan devisa Indonesia berada di kisaran US$146,5 miliar sehingga memberikan bantalan bagi stabilitas eksternal.

Selain itu, indeks keyakinan konsumen mencapai level tertinggi sepanjang 2026. Kondisi tersebut menunjukkan optimisme masyarakat terhadap aktivitas ekonomi domestik masih cukup kuat.

Pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor pada Agustus juga menjadi sentimen tambahan. Data tersebut mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sementara itu, arus modal asing ke instrumen Surat Utang Negara dan obligasi korporasi turut menjadi perhatian. Jika aliran dana asing terus masuk, permintaan terhadap rupiah berpotensi meningkat.

Meski demikian, sentimen domestik belum sepenuhnya menghilangkan risiko eksternal. Pergerakan dolar, yield Treasury, harga minyak, serta kebijakan bank sentral global masih dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.

Ekonomi Domestik Masih Menopang Rupiah

Prospek Rupiah Masih Terbuka

Ke depan, nilai tukar rupiah masih memiliki peluang untuk menguat secara terbatas. Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.450 hingga Rp17.600 per dolar AS dalam jangka pendek.

Area Rp17.450 dapat menjadi target apabila tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut. Sebaliknya, inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap mata uang domestik.

Pasar juga akan menunggu pertemuan The Fed pada 15–16 September 2026. Hasil pertemuan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan arah dolar dan mata uang negara berkembang.

Di dalam negeri, Bank Indonesia tetap berupaya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen moneter dan kebijakan pasar keuangan. Langkah tersebut dapat membantu meredam gejolak ketika tekanan eksternal meningkat.

Dengan demikian, pelemahan rupiah pada 10 September belum menunjukkan perubahan fundamental yang besar. Pergerakan tersebut lebih mencerminkan konsolidasi setelah penguatan sebelumnya serta sikap wait and see investor.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, perkembangan kurs tetap penting untuk dipantau. Perubahan dolar AS dapat memengaruhi biaya impor, harga komoditas, investasi, hingga aktivitas perdagangan.

Karena itu, arah nilai tukar rupiah berikutnya akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen domestik dan perkembangan pasar global.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3569 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2471 kali

-5%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.900.000.

👁 3216 kali

-5%
Original price was: Rp650.000.Current price is: Rp617.000.

👁 1682 kali

👁️ Dilihat 11 kali