Harta Turun Triliunan, Prajogo Pangestu Masih di Puncak Kekayaan
Kekayaan konglomerat nasional kembali menjadi sorotan setelah harta turun triliunan rupiah dalam waktu singkat. Prajogo Pangestu tercatat sebagai salah satu tokoh yang terdampak penurunan nilai aset akibat gejolak pasar saham. Meski demikian, posisi Prajogo sebagai orang terkaya di Indonesia belum tergeser. Penurunan tersebut terjadi seiring melemahnya sejumlah saham emiten besar yang menjadi sumber utama kekayaannya.
Tiga Konglomerat RI Kehilangan Rp35 Triliun dalam Sehari
Mengutip laporan CNBC Indonesia, total kekayaan tiga konglomerat Indonesia menyusut hingga Rp35 triliun hanya dalam satu hari perdagangan. Kondisi ini dipicu oleh tekanan pasar saham yang terjadi secara serentak. Prajogo Pangestu termasuk dalam daftar tersebut, seiring melemahnya saham-saham sektor energi dan pertambangan yang tengah mengalami koreksi tajam.
Saham PT Petrosea Terus Melemah di Bursa
Salah satu saham yang memberi kontribusi terhadap penurunan kekayaan adalah PT Petrosea Tbk (PTRO). Pada perdagangan Kamis (22/1/2026), saham PTRO ditutup melemah 8,08% ke level Rp11.375. Sejak 19 Januari 2026, saham ini konsisten berada di zona merah. Dalam sepekan, nilai saham PTRO tercatat turun hingga 11,82%, menandakan tekanan jual yang cukup kuat di pasar.
Investor Asing Justru Lakukan Aksi Borong Saham
Menariknya, di tengah penurunan harga saham, investor asing justru melakukan aksi beli. Berdasarkan data perdagangan periode 15–21 Januari 2026, tercatat net buy asing mencapai Rp549,94 miliar pada saham PTRO. Aksi ini menunjukkan optimisme investor global terhadap prospek jangka panjang perusahaan, meskipun harga saham tengah terkoreksi.
Fundamental Kuat Jaga Posisi Prajogo Pangestu
Meski harta turun triliunan rupiah, Prajogo Pangestu tetap berada di posisi teratas orang terkaya Indonesia. Diversifikasi bisnis yang kuat di sektor energi, petrokimia, dan pertambangan menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas kekayaannya. Para analis menilai penurunan ini bersifat sementara dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental bisnis secara keseluruhan.
👁 850 kali
👁 579 kali
👁 594 kali
👁 672 kali
👁️ Dilihat 7 kali




