Saham BUMI Tertekan Akibat Aksi Jual Asing
Saham PT Bumi Resources kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (11/5/2026). Emiten batu bara milik Grup Bakrie dan Salim tersebut turun 2,78 persen atau melemah 6 poin ke level Rp210 per saham pada sesi I perdagangan. Selain itu, pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah sebelumnya saham BUMI juga terkoreksi lebih dari 6 persen pada akhir pekan lalu.
Tekanan jual terlihat cukup besar sepanjang sesi pagi. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, saham BUMI menjadi salah satu saham paling aktif diperdagangkan dengan frekuensi lebih dari 41 ribu kali transaksi. Bahkan, nilai transaksi saham BUMI mencapai Rp425 miliar sehingga menunjukkan tingginya aktivitas pelaku pasar terhadap saham sektor batu bara tersebut.
Net Sell Asing Membebani Pergerakan Saham BUMI
Data perdagangan menunjukkan investor asing masih melakukan aksi jual besar-besaran terhadap saham BUMI. Pada perdagangan Senin, net sell asing tercatat mencapai Rp164,8 miliar. Akibatnya, tekanan tersebut memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi sepanjang pekan sebelumnya.
Dalam sepekan terakhir, saham BUMI tercatat turun sekitar 10 persen. Namun, kondisi ini berbanding terbalik dengan performa pada akhir April lalu ketika saham BUMI sempat melonjak lebih dari 11 persen. Derasnya aksi jual asing membuat pergerakan saham BUMI masih berada dalam tekanan tinggi, terutama di tengah sentimen global yang belum stabil.
Di sisi lain, analis pasar menilai investor mulai mengurangi eksposur pada saham sektor minerba karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan potensi perubahan kebijakan di dalam negeri. Oleh sebab itu, saham berbasis komoditas menjadi lebih volatil dalam jangka pendek.
IHSG Ikut Melemah di Tengah Tekanan Pasar
Pelemahan saham BUMI terjadi bersamaan dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG. Hingga akhir sesi I perdagangan, IHSG turun 62,947 poin atau melemah 0,90 persen ke level 6.906,449. Meski sempat menyentuh level terendah di posisi 6.846, indeks mencoba melakukan rebound terbatas menjelang penutupan sesi.
Mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia bergerak di zona merah. Sebanyak 445 saham tercatat melemah, sedangkan hanya 229 saham yang menguat dan 137 saham stagnan. Sementara itu, aktivitas perdagangan tetap ramai dengan volume transaksi mencapai lebih dari 22 miliar saham.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih dipenuhi sentimen negatif, terutama dari faktor eksternal yang memengaruhi psikologi investor. Tidak hanya itu, tekanan terhadap IHSG semakin besar karena pelaku pasar masih berhati-hati terhadap arah kebijakan ekonomi global dan domestik.
Sentimen Global dan MSCI Jadi Perhatian Investor
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Hari Rachmansyah menyebut pasar masih dipengaruhi dinamika global. Saat ini, investor mencermati perkembangan geopolitik Rusia dan Ukraina serta potensi pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping.
Menurut Hari, situasi tersebut dapat mempersempit ruang negosiasi terkait tarif perdagangan dan pasokan rare earth. Selain sentimen global, pasar juga menunggu hasil rebalancing MSCI Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Mei 2026. Rebalancing tersebut dinilai berpotensi memengaruhi bobot sejumlah saham di pasar domestik.
Dari sisi domestik, investor turut memperhatikan rencana perubahan tarif royalti minerba yang dibahas Kementerian ESDM. Di samping itu, wacana penerapan bea ekspor dan windfall tax untuk sektor batu bara dan nikel ikut menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek sektor pertambangan.
Prospek Saham BUMI Masih Dibayangi Volatilitas
Tekanan terhadap saham BUMI diperkirakan masih berlanjut dalam jangka pendek. Sejumlah analis teknikal memperkirakan area support saham BUMI berada di level 205 hingga 199. Sebaliknya, resistance terdekat diperkirakan berada pada area 221 hingga 231.
Volatilitas saham BUMI masih cukup tinggi karena investor asing terus melakukan aksi jual dan pasar belum mendapatkan sentimen positif yang kuat. Selain faktor eksternal, ketidakpastian terkait kebijakan sektor minerba juga membuat investor memilih lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Meskipun demikian, sebagian pelaku pasar tetap mencermati peluang rebound apabila tekanan global mulai mereda dan sentimen domestik membaik. Karena itu, investor disarankan tetap melakukan riset mandiri serta memperhatikan manajemen risiko sebelum mengambil keputusan investasi pada saham BUMI maupun saham sektor batu bara lainnya.
👁 1128 kali
👁 1276 kali
👁 1671 kali
👁 988 kali
👁️ Dilihat 10 kali




