Dewan Keamanan PBB Memanas Bahas Sanksi Iran

Dewan Keamanan PBB Bahas Sanksi Iran

Dewan Keamanan PBB kembali menjadi sorotan setelah lima anggota tetap terlibat perdebatan mengenai sanksi terhadap Iran. Sidang tersebut berlangsung ketika Rusia dan China mempertanyakan keabsahan pemberlakuan kembali sanksi internasional. Sebaliknya, Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis menilai mekanisme tersebut masih memiliki dasar hukum. Perdebatan ini muncul setelah Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengadopsi resolusi yang meminta persoalan Iran dirujuk ke Dewan Keamanan PBB. Rusia menilai resolusi tersebut bias dan konfrontatif. Karena itu, Moskow memperingatkan bahwa keputusan tersebut dapat membuka babak eskalasi baru. Ketegangan tersebut semakin meningkat karena isu nuklir Iran menyentuh kepentingan keamanan kawasan dan hubungan antarnegara besar.

Rusia dan China Tolak Mekanisme Snapback

Rusia dan China mengambil posisi berseberangan dengan negara-negara Barat dalam sidang tersebut. Moskow berpendapat Resolusi 2231 yang berkaitan dengan kesepakatan nuklir Iran telah berakhir pada 18 Oktober 2025. Oleh sebab itu, Rusia mempertanyakan dasar hukum untuk mengaktifkan kembali mekanisme snapback. Mekanisme tersebut sebelumnya dirancang untuk mengembalikan sanksi PBB apabila Iran melakukan pelanggaran serius terhadap komitmen nuklir. Selain itu, Rusia menilai Komite Sanksi 1737 sudah tidak memiliki dasar untuk menjalankan kembali tugasnya. China kemudian mendukung pandangan tersebut. Beijing memperingatkan bahwa tindakan sepihak justru dapat memperlebar perpecahan di tubuh Dewan Keamanan PBB. China juga mendorong penyelesaian melalui jalur politik dan diplomasi agar konflik tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Upload Image...

AS dan Eropa Pertahankan Sanksi Iran

Sementara itu, AS, Inggris, dan Prancis menolak argumentasi Rusia serta China. Ketiga negara tersebut menyatakan mekanisme snapback telah dijalankan sesuai ketentuan Resolusi 2231. Inggris bersama Prancis dan Jerman sebelumnya memulai proses tersebut dengan alasan adanya kegagalan signifikan Iran dalam memenuhi kewajiban nuklirnya. London juga menyoroti laporan mengenai persediaan uranium Iran yang diperkaya hingga 60 persen. Menurut pihak Barat, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran serius terhadap sistem nonproliferasi nuklir. Prancis bahkan menegaskan bahwa resolusi sanksi telah dipulihkan kembali bersama mandat komite terkait. Di sisi lain, AS menilai Rusia dan China berusaha melemahkan keputusan Dewan demi melindungi Teheran. Washington juga menyoroti laporan IAEA mengenai persoalan akses inspeksi dan kepatuhan Iran terhadap kewajiban pengamanan nuklir.

Pemungutan Suara Gagalkan Upaya Rusia-China

Perdebatan kemudian berlanjut melalui pemungutan suara mengenai agenda sementara sidang. Hasilnya, 11 anggota mendukung agenda tersebut, sedangkan dua negara menolak dan dua lainnya memilih abstain. Dengan hasil itu, upaya Rusia dan China untuk menghentikan pertemuan gagal. Pemungutan suara prosedural tersebut tidak dapat digagalkan melalui hak veto anggota tetap. Karena itu, sidang tetap berlanjut meskipun terdapat perbedaan tajam mengenai status hukum sanksi Iran. Rusia kemudian mengecam pertemuan tersebut sebagai tindakan yang tidak sah dan menyebutnya sebagai pelanggaran prosedural. Sebaliknya, negara-negara Barat tetap mempertahankan pandangan bahwa mekanisme sanksi berjalan secara sah. Situasi tersebut menunjukkan bahwa perselisihan mengenai Iran kini tidak hanya menyangkut program nuklir, tetapi juga menyentuh interpretasi terhadap aturan internasional.

Upload Image...

Risiko Eskalasi Regional Semakin Besar

Ketegangan di Dewan Keamanan PBB berpotensi memengaruhi stabilitas Timur Tengah. Rusia memperingatkan bahwa keputusan yang dianggap konfrontatif dapat menciptakan rangkaian eskalasi baru. China juga menilai tekanan politik dan penggunaan kekuatan tidak akan menyelesaikan persoalan nuklir Iran secara permanen. Pada saat yang sama, negara-negara Barat menilai Iran harus memberikan kepastian mengenai aktivitas nuklirnya dan membuka ruang bagi pengawasan internasional. Perbedaan tersebut membuat jalur diplomasi menghadapi tantangan besar. Namun, negosiasi tetap menjadi pilihan penting untuk mencegah konflik yang lebih luas. Jika ketegangan terus meningkat, perselisihan mengenai sanksi dapat berkembang menjadi persoalan keamanan regional. Oleh karena itu, perkembangan sikap Dewan Keamanan PBB terhadap Iran akan menjadi perhatian penting bagi komunitas internasional dalam beberapa waktu ke depan.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3580 kali

-5%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.900.000.

👁 2140 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2479 kali

-5%
Original price was: Rp750.000.Current price is: Rp712.500.

👁 3040 kali

👁️ Dilihat 8 kali