Santri Keracunan MBG Sidoarjo Mendapat Penanganan Medis
Kasus santri keracunan MBG Sidoarjo terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Putat, Kecamatan Tanggulangin, pada Selasa, 1 September 2026. Ratusan santri mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mereka kemudian mendapat penanganan medis di sejumlah rumah sakit. Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol. Christian Tobing bersama Bupati Sidoarjo turut mengecek kondisi para santri di rumah sakit. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh korban memperoleh pelayanan medis secara maksimal.
Kapolresta Sidoarjo Pastikan Kondisi Santri Aman
Dalam kunjungannya, Christian Tobing berkomunikasi langsung dengan santri yang menjalani perawatan. Ia juga memberikan dukungan kepada orang tua yang mendampingi anak mereka. Selain itu, Kapolresta Sidoarjo memastikan petugas mengawal proses evakuasi sejak para santri berada di pondok pesantren hingga tiba di rumah sakit. Polisi juga mengimbau keluarga dan masyarakat tetap tenang. Menurut kepolisian, masyarakat sebaiknya tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Langkah tersebut penting agar penanganan kasus santri keracunan MBG Sidoarjo tidak terganggu oleh kabar palsu.
Jumlah Santri Terdampak Terus Diperbarui
Data penanganan korban mengalami pembaruan seiring proses pendataan di lapangan. Pada Rabu, 2 September 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut sebanyak 512 orang terdampak. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 santri masih menjalani perawatan, 312 orang sudah pulang dan dinyatakan sembuh, sedangkan 120 orang masih menjalani observasi. Sebelumnya, data rumah sakit mencatat sekitar 500 pasien telah mendapat penanganan di delapan rumah sakit. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa proses pendataan masih berjalan. Karena itu, masyarakat perlu mengacu pada informasi resmi dari pihak berwenang ketika mengikuti perkembangan kasus.
Menu MBG dan Pemeriksaan Sampel Makanan
Sejumlah santri mengungkapkan menu MBG yang mereka konsumsi pada Selasa siang. Menu tersebut terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel. Salah seorang santriwati mengaku merasakan rasa asam pada sayuran sebelum mengalami mual, lemas, dan pusing. Namun, kondisi tersebut belum dapat menjadi bukti penyebab keracunan. Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian telah mengambil sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, SPPG yang memasok makanan juga menghentikan sementara operasionalnya untuk mendukung proses investigasi.
Evaluasi MBG Didorong untuk Cegah Kasus Berulang
Kasus santri keracunan MBG Sidoarjo turut mendapat perhatian dari Komisi X DPR RI. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta Badan Gizi Nasional mengevaluasi standar operasional prosedur pelaksanaan MBG. Ia menilai keamanan peserta didik harus menjadi prioritas dalam program tersebut. Pemerintah juga memastikan tidak ada korban meninggal dunia akibat kejadian ini. Selanjutnya, hasil pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat menjelaskan penyebab gangguan kesehatan secara lebih akurat. Dengan evaluasi menyeluruh dan penerapan SOP yang ketat, pelaksanaan program MBG diharapkan dapat berjalan lebih aman bagi siswa dan santri di berbagai daerah.
👁 3472 kali
👁 2407 kali
👁 2988 kali
👁 2582 kali
👁️ Dilihat 14 kali





