Krisis BBM Rusia Makin Dalam, Novorossiysk Jadi Hormuz Kedua

Pemerintah Rusia juga mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi tekanan pasokan.

Krisis BBM Rusia Kembali Memburuk

Krisis BBM Rusia kembali menjadi perhatian setelah serangkaian serangan drone Ukraina mengganggu infrastruktur energi dan distribusi bahan bakar. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi operasional kilang, tetapi juga menekan rantai pasokan minyak dari produksi hingga ekspor. Pelabuhan Novorossiysk bahkan disebut sebagai “Hormuz kedua” karena gangguan di fasilitas tersebut berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap arus minyak. Serangan pada 14 Agustus membuat depot minyak Sheskharis menghentikan sementara aktivitas penanganan kargo. Operasional memang kembali berjalan pada 16 Agustus. Namun, kejadian itu menunjukkan bahwa gangguan singkat pada fasilitas strategis dapat menyebar ke sektor energi lain.

Serangan Drone Tekan Industri Minyak Rusia

Analis Rusia Yuri Baranchik menilai serangan terhadap kilang dan fasilitas ekspor tidak dapat lagi dipandang sebagai dua peristiwa terpisah. Ketika kapasitas penyimpanan penuh, terminal dapat menghentikan penerimaan minyak dari jaringan pipa. Kondisi tersebut kemudian menghambat hubungan antara produksi, pengolahan, dan ekspor. Tekanan juga muncul karena Rusia harus mengatur ulang pengiriman minyak melalui pelabuhan Primorsk, Ust-Luga, dan Novorossiysk. Rencana pengiriman pada Agustus disebut mendekati 2,7 juta barel per hari. Karena itu, gangguan pada salah satu titik utama dapat meningkatkan tekanan pada keseluruhan sistem energi. Situasi tersebut semakin penting ketika permintaan minyak global tetap tinggi dan sejumlah negara seperti India serta China membutuhkan pasokan alternatif.

Analis Rusia Yuri Baranchik menilai serangan terhadap kilang dan fasilitas ekspor tidak dapat lagi dipandang sebagai dua peristiwa terpisah

Antrean SPBU Menunjukkan Krisis Energi

Dampak krisis BBM Rusia mulai terlihat langsung oleh masyarakat. Antrean kendaraan kembali muncul di sejumlah SPBU di Moskow setelah perusahaan minyak menerapkan pembatasan pembelian bensin. Gazprom Neft membatasi pembelian hingga 40 liter per pelanggan di SPBU otomatis tertentu dan 60 liter di beberapa lokasi lain. Rosneft juga menerapkan batas 30 liter per kendaraan secara nasional. Sementara itu, Tatneft membatasi pembelian hingga 50 liter dan Lukoil memberlakukan pembatasan di Moskow serta wilayah sekitarnya. Mantan pemilik Yukos, Mikhail Khodorkovsky, memperingatkan bahwa kerusakan kilang yang terus berlangsung dapat membawa industri energi Rusia menuju titik kritis. Menurutnya, penghentian pemeliharaan rutin demi menjaga produksi justru dapat memperburuk kondisi fasilitas dalam jangka panjang.

Rusia Kembali Gunakan BBM Berkualitas Rendah

Pemerintah Rusia juga mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi tekanan pasokan. Pada 5 Agustus 2026, pemerintah mengizinkan produksi, impor, dan penjualan bensin Euro-2, Euro-3, serta Euro-4 selama periode tertentu. Kebijakan tersebut menunjukkan besarnya tekanan terhadap ketersediaan bahan bakar domestik. Rusia juga meningkatkan impor BBM melalui Belarus, Kazakhstan, dan Maroko. Bahkan, pasokan bensin dari Belarus pada Januari-Juli 2026 disebut melonjak tajam dibandingkan periode sebelumnya. Namun, distribusi impor tetap menghadapi kendala harga sehingga sebagian pasokan tertahan. Pada saat yang sama, harga bensin eceran Rusia meningkat 7,4 persen pada paruh pertama 2026, sedangkan harga solar naik lebih dari 12 persen. Pemerintah kemudian memperketat pengawasan harga melalui Federal Antimonopoly Service.

Pemerintah Rusia juga mengambil sejumlah langkah untuk menghadapi tekanan pasokan.

Dampak Krisis Bisa Meluas ke Pasar Minyak

Krisis BBM Rusia berpotensi memberikan dampak lebih luas apabila gangguan kilang dan pelabuhan terus terjadi. International Energy Agency memperkirakan pasar minyak global mengalami defisit sekitar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ketiga. Situasi tersebut membuat setiap gangguan terhadap pasokan dari produsen besar semakin penting bagi pasar internasional. Harga Brent yang berada di sekitar 91,5 dolar AS per barel pada 18 Agustus juga menunjukkan kuatnya tekanan harga. Rusia sebenarnya memiliki peluang memperoleh pendapatan besar karena permintaan tetap tersedia dan selisih harga minyak Urals dengan Brent menyempit. Namun, hambatan ekspor membuat Rusia kesulitan memanfaatkan momentum tersebut. Oleh sebab itu, Novorossiysk disebut memiliki karakter seperti “Hormuz kedua”. Jika gangguan berlanjut, tekanan dapat bergerak dari kilang menuju SPBU, kemudian memengaruhi ekspor dan pasar minyak global.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3404 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2354 kali

-5%
Original price was: Rp800.000.Current price is: Rp760.000.

👁 1291 kali

-5%
Original price was: Rp1.000.000.Current price is: Rp950.000.

👁 1862 kali

👁️ Dilihat 7 kali