BBCA: Valuasi Murah, Asing Borong Saham hingga Rp2,14 Triliun

NIM Menjadi Perhatian Investor

Valuasi BBCA Berada di Bawah Rata-Rata Historis

BBCA kembali menjadi perhatian investor setelah valuasinya berada di bawah rata-rata historis. Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, rasio price to book value (PBV) BBCA berada di level 2,89 kali. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebesar 4,3 kali. Kondisi ini membuat saham BBCA terlihat lebih murah dari sisi valuasi historis. Selain itu, investor asing menunjukkan minat yang semakin kuat terhadap saham bank tersebut. Pada periode 27 Juli hingga 14 Agustus 2026, pembelian bersih asing mencapai Rp788,53 miliar. Arus dana tersebut menunjukkan adanya akumulasi ketika harga saham masih bergerak dalam tekanan.

Investor Asing Terus Akumulasi Saham BBCA

Minat asing terhadap BBCA berlanjut hingga pekan ketiga Agustus 2026. Pada periode 18-21 Agustus, investor asing mencatat net buy sekitar Rp409,05 miliar. Secara kumulatif, pembelian bersih asing pada periode 1 Juli hingga 21 Agustus 2026 mencapai Rp2,14 triliun. Perubahan tersebut cukup menarik karena BBCA sebelumnya lebih sering menghadapi tekanan jual asing sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, harga saham BBCA menguat 1,57% selama pekan 18-21 Agustus dan ditutup pada Rp6.450. Pada pembukaan perdagangan 24 Agustus 2026, BBCA juga berada di level Rp6.450. Dengan demikian, investor masih mencermati kemampuan saham tersebut untuk melanjutkan penguatan di tengah dinamika pasar.

Investor Asing Terus Akumulasi Saham BBCA

Kinerja BCA Tetap Menopang Fundamental

Fundamental BCA menjadi faktor penting di balik perhatian pasar terhadap BBCA. Pada semester I-2026, BCA mencatat penyaluran kredit Rp1.035,6 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan. Kredit korporasi menjadi salah satu pendorong utama dengan pertumbuhan 13,6% menjadi Rp513,4 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih mencapai Rp29,5 triliun atau meningkat 1,8%. Dana murah CASA juga tumbuh 10,2% menjadi Rp1.082,3 triliun. Selanjutnya, hingga Juli 2026, laba bersih BCA mencapai Rp35,3 triliun atau tumbuh 2% secara tahunan. Pada Juli saja, laba bersih mencapai Rp5,1 triliun dan meningkat 5% secara tahunan. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa BBCA masih memiliki fondasi bisnis yang kuat meskipun margin bunga menghadapi tekanan.

NIM Menjadi Perhatian Investor

Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati tekanan margin bunga bersih atau NIM. Selama tujuh bulan pertama 2026, NII BBCA hanya tumbuh 0,3% secara tahunan. NIM juga turun 20 basis poin menjadi 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, kondisi margin mulai membaik pada Juli 2026. NIM meningkat 30 basis poin secara bulanan dari 5,2% pada Juni menjadi 5,5%. Pendapatan non-bunga turut memberikan dukungan karena meningkat 10% secara tahunan pada Juli. Rasio dana murah CASA juga mencapai 85,4%, sedangkan dana murah tumbuh 11% secara tahunan. Karena itu, kemampuan BBCA menjaga kualitas aset, efisiensi biaya, dan pertumbuhan kredit akan menjadi perhatian penting bagi investor.

NIM Menjadi Perhatian Investor

Dividen dan Target Harga BBCA Jadi Perhatian

Selain valuasi dan kinerja, dividen menjadi katalis lain bagi BBCA. BCA berencana membagikan dividen interim kedua tahun buku 2026 sebesar Rp25 per saham dengan total sekitar Rp3,07 triliun. Cum date di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 28 Agustus 2026, sedangkan pembayaran berlangsung pada 16 September 2026. Sejumlah analis juga memberikan target harga yang lebih tinggi dari posisi perdagangan terakhir. Mandiri Sekuritas menetapkan target jangka pendek Rp7.000, sementara Kiwoom Sekuritas memasang target 12 bulan Rp8.075. MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target Rp8.700. Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko perlambatan kredit, tekanan NIM, persaingan dana, dan kondisi ekonomi makro. Dengan valuasi yang lebih rendah dari rata-rata historis serta akumulasi asing yang kuat, BBCA masih menjadi salah satu saham perbankan yang menarik untuk dicermati.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 3381 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2331 kali

-5%
Original price was: Rp2.000.000.Current price is: Rp1.900.000.

👁 2636 kali

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 2086 kali

👁️ Dilihat 9 kali