Saham FORU Rights Issue Rp27 Triliun, Dilusi 99,78%

Saham FORU Melonjak Setelah Rencana Rights Issue Tambang

Saham FORU Rights Issue Rp27,1 Triliun untuk Transformasi Bisnis

Saham FORU rights issue menjadi perhatian investor setelah PT Fortune Indonesia Tbk menyiapkan aksi korporasi besar dengan nilai mencapai Rp27,1 triliun. Emiten berkode saham FORU tersebut berencana melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue untuk memperkuat struktur bisnis perusahaan.

Dalam aksi tersebut, FORU akan menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 99,78% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan rights issue. Perseroan menawarkan harga pelaksanaan sebesar Rp126 per saham dengan rasio setiap 100 saham lama memperoleh 46.235 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD).

Manajemen FORU menjelaskan bahwa aksi ini menjadi bagian dari perubahan strategi bisnis perusahaan. Perseroan ingin bertransformasi dari perusahaan sebelumnya menjadi perusahaan induk yang mengembangkan sektor pertambangan batu bara kokas.


Akuisisi PT Borneo Prima Jadi Fokus Penggunaan Dana FORU

Sebagian besar dana dari saham FORU rights issue akan digunakan untuk mengakuisisi 49% saham PT Borneo Prima (BP). Akuisisi tersebut memiliki nilai sekitar Rp20,82 triliun dan dilakukan melalui mekanisme penyertaan modal selain uang atau inbreng.

PT Borneo Prima merupakan perusahaan tambang batu bara metalurgi atau coking coal yang beroperasi di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Perusahaan tersebut memiliki wilayah konsesi sekitar 15.000 hektare dengan total cadangan batu bara mencapai sekitar 87,7 juta ton berdasarkan laporan berbasis standar JORC 2012.

Selain itu, BP memiliki cadangan batu bara kokas yang digunakan sebagai bahan baku industri baja. Manajemen FORU menilai sektor tersebut memiliki prospek menarik karena kebutuhan baja global terus berkembang, terutama di kawasan Asia.

Sementara itu, dana tunai dari pelaksanaan HMETD oleh investor publik diperkirakan mencapai Rp6,28 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dan aktivitas operasional tambang PT Borneo Prima.

Akuisisi PT Borneo Prima Jadi Fokus Penggunaan Dana FORU

Risiko Dilusi Saham FORU Mencapai Hampir 100 Persen

Di balik potensi ekspansi bisnis, saham FORU rights issue juga membawa risiko besar bagi pemegang saham lama. Perseroan memperingatkan bahwa investor yang tidak menggunakan haknya dalam aksi tersebut dapat mengalami dilusi kepemilikan hingga 99,78%.

Dilusi terjadi karena jumlah saham baru yang diterbitkan jauh lebih besar dibandingkan jumlah saham beredar sebelumnya. Oleh karena itu, investor lama perlu mempertimbangkan keputusan untuk mengeksekusi HMETD agar persentase kepemilikannya tidak terdampak signifikan.

Di sisi lain, aksi korporasi ini mendapatkan perhatian pasar karena skala penerbitan saham yang sangat besar. Investor perlu mencermati prospektus resmi, tujuan penggunaan dana, serta kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan setelah proses akuisisi selesai.


Saham FORU Melonjak Setelah Rencana Rights Issue Tambang

Pergerakan saham FORU mengalami peningkatan signifikan setelah perusahaan mengumumkan rencana rights issue jumbo. Harga saham FORU sempat melonjak hingga menyentuh level Rp3.610 per saham sebelum bergerak di sekitar Rp3.330 per saham.

Pasar merespons positif rencana transformasi bisnis FORU menuju sektor pertambangan batu bara kokas. Investor melihat akuisisi PT Borneo Prima dapat meningkatkan skala bisnis perusahaan secara drastis.

Setelah konsolidasi dengan BP, total aset FORU diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp8,71 triliun dari sebelumnya hanya sekitar Rp33,55 miliar. Selain itu, pendapatan usaha diperkirakan naik sekitar 35 kali lipat menjadi Rp195,66 miliar.

Manajemen juga memperkirakan perusahaan dapat membukukan laba bersih sekitar Rp11,94 miliar setelah proses akuisisi berjalan efektif.

Saham FORU Melonjak Setelah Rencana Rights Issue Tambang

BEI Suspensi Saham FORU dan Prospek Investor ke Depan

Lonjakan harga saham FORU yang sangat cepat membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah penghentian sementara perdagangan saham pada 22 Juli 2026. Suspensi tersebut dilakukan setelah harga saham FORU mengalami kenaikan hingga 171,51% dalam periode singkat.

Langkah BEI bertujuan menjaga perdagangan yang wajar, teratur, dan transparan. Investor perlu memahami bahwa saham dengan kapitalisasi kecil memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan saham berkapitalisasi besar.

Ke depan, keberhasilan transformasi bisnis FORU akan bergantung pada pelaksanaan rights issue, penyelesaian akuisisi PT Borneo Prima, serta kemampuan perusahaan mengembangkan bisnis batu bara kokas.

Dengan demikian, saham FORU rights issue menawarkan peluang pertumbuhan besar, tetapi investor tetap harus memperhatikan risiko dilusi dan volatilitas harga sebelum mengambil keputusan investasi.

-5%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.757.500.

👁 2854 kali

-12%
Original price was: Rp1.850.000.Current price is: Rp1.628.000.

👁 2013 kali

-5%
Original price was: Rp950.000.Current price is: Rp902.500.

👁 2798 kali

-5%
Original price was: Rp1.000.000.Current price is: Rp950.000.

👁 1656 kali

👁️ Dilihat 9 kali