Rupiah Berhasil Menjauh dari Tekanan Dolar AS
Rupiah menguat ke Rp17.860 dan mencatat performa positif pada penutupan perdagangan Jumat, 12 Juni 2026. Penguatan ini menjadi kabar baik setelah mata uang Garuda sempat mengalami tekanan berat dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup di kisaran Rp17.860-Rp17.865 per dolar AS atau menguat lebih dari 0,6% dibandingkan hari sebelumnya. Bahkan pada perdagangan intraday, rupiah sempat menyentuh level Rp17.845 per dolar AS. Capaian tersebut membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 yang sebelumnya menjadi perhatian pelaku pasar.
Kenaikan BI Rate Jadi Titik Balik Penguatan Rupiah
Salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah adalah kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Keputusan ini diumumkan melalui Rapat Dewan Gubernur mingguan pada 9 Juni 2026. Langkah tersebut memberikan sinyal kuat bahwa Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Selain itu, kenaikan suku bunga membuat instrumen keuangan domestik menjadi lebih menarik bagi investor sehingga meningkatkan permintaan terhadap rupiah. Respons pasar yang positif terlihat dari penguatan tajam rupiah sehari setelah pengumuman kebijakan tersebut.
Arus Modal Asing Kembali Mengalir ke Indonesia
Penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari masuknya modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik. Bank Indonesia mencatat arus dana asing yang masuk ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) mencapai triliunan rupiah dalam dua hari perdagangan. Selain itu, penerbitan obligasi internasional Danantara juga memperoleh respons positif dari investor global. Masuknya dana asing meningkatkan pasokan valuta asing di pasar dan membantu memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS. Kondisi ini sekaligus menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Faktor Global Turut Mendukung Pergerakan Rupiah
Selain faktor domestik, sentimen global juga berperan dalam mendorong penguatan mata uang Garuda. Pasar keuangan internasional merespons positif perkembangan geopolitik yang menunjukkan tanda-tanda meredanya ketegangan di beberapa kawasan dunia. Berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global membuat investor mulai mengurangi kepemilikan aset safe haven seperti dolar AS. Akibatnya, dana kembali mengalir ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Situasi tersebut menciptakan ruang bagi rupiah untuk menguat dan memutus tren pelemahan yang berlangsung selama sebelas pekan berturut-turut.
๐ 2266 kali
๐ 1710 kali
๐ 931 kali
๐ 1862 kali
๐๏ธ Dilihat 32 kali




