Bank Indonesia Optimistis Rupiah Menguat pada Juli 2026
Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan mulai menguat pada Juli 2026 setelah tekanan permintaan valuta asing atau valas mereda. Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih dipengaruhi faktor musiman yang biasanya terjadi pada April hingga Juni. Permintaan dolar Amerika Serikat meningkat karena kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan, serta kebutuhan ibadah haji. Meski rupiah sempat menembus level Rp17.600 per dolar AS, BI tetap optimistis nilai tukar akan kembali stabil sesuai fundamental ekonomi Indonesia.
Faktor Global Menekan Nilai Tukar Rupiah
Selain faktor domestik, Bank Indonesia menjelaskan bahwa kondisi global juga memberi tekanan besar terhadap rupiah. Konflik geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global. Situasi tersebut membuat inflasi Amerika Serikat tetap tinggi sehingga peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil. Akibatnya, yield US Treasury meningkat dan dolar AS menguat terhadap banyak mata uang dunia, termasuk rupiah. Kondisi ini juga memicu arus keluar modal asing dari pasar negara berkembang sehingga menekan pasar saham dan obligasi Indonesia.
Arus Modal Asing Mulai Kembali Masuk
Bank Indonesia menyebut arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan sejak April 2026. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat inflow besar setelah BI menaikkan suku bunga instrumen tersebut untuk menjaga daya tarik investasi. Sepanjang April hingga awal Mei 2026, inflow SRBI mencapai lebih dari Rp75 triliun. Selain itu, investor asing mulai kembali membeli Surat Berharga Negara (SBN), sementara tekanan jual di pasar saham mulai mereda. Masuknya modal asing ini membantu memperkuat pasokan valas domestik sehingga mendukung stabilitas kurs rupiah di tengah tekanan global.
Strategi Pemerintah dan BI Menjaga Stabilitas Rupiah
Pemerintah bersama Bank Indonesia terus menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat bersama sejumlah menteri ekonomi dan Gubernur BI guna membahas kondisi rupiah serta langkah stabilisasi pasar. Pemerintah juga berencana mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk membeli obligasi negara yang dilepas investor asing. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga yield obligasi tetap kompetitif dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. BI pun memastikan intervensi pasar tetap dilakukan secara terukur demi menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Prospek Rupiah pada Triwulan III-2026
Bank Indonesia memperkirakan penguatan rupiah akan mulai terlihat pada triwulan III-2026 seiring menurunnya permintaan valas musiman. Perry Warjiyo optimistis rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 tetap berada dalam asumsi APBN, yaitu sekitar Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS. BI juga menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan inflasi terkendali dan stabilitas sektor keuangan yang terjaga. Jika tensi geopolitik global mereda dan arus modal asing terus membaik, rupiah berpotensi kembali menguat secara bertahap pada semester kedua 2026.
👁 1933 kali
👁 1187 kali
👁 1242 kali
👁 1327 kali
👁️ Dilihat 10 kali




