USD IDR Tembus Rp17.500 pada Perdagangan Hari Ini
USD IDR tembus Rp17.500 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat dan menyentuh level terendah sepanjang sejarah. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.45 WIB, rupiah berada di level Rp17.503 per dolar AS atau melemah 89 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya tekanan global dan penguatan dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah sebenarnya berada di level Rp17.489 per dolar AS. Namun tekanan pasar membuat kurs terus bergerak melemah hingga menyentuh area Rp17.520 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar karena pelemahan rupiah berlangsung sangat cepat hanya dalam waktu beberapa jam perdagangan pagi.
USD IDR Tembus Rp17.500 Akibat Tekanan Global
Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan besar yang dialami mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Yuan China turun 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,50 persen, ringgit Malaysia terkoreksi 0,22 persen, dan won Korea Selatan anjlok hingga 1 persen. Yen Jepang serta dolar Singapura juga ikut melemah terhadap mata uang AS.
Tidak hanya mata uang Asia, sejumlah mata uang negara maju juga mengalami tekanan. Euro Eropa turun 0,17 persen, poundsterling Inggris melemah 0,18 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,24 persen. Kondisi tersebut menunjukkan dominasi penguatan dolar AS akibat meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penguatan dolar AS membuat investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mengalami tekanan lebih besar dalam perdagangan pasar uang internasional.
Pelemahan Rupiah Dipicu Konflik AS-Iran dan Harga Minyak
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan USD IDR dipengaruhi oleh meredupnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik geopolitik di Timur Tengah membuat pasar semakin khawatir terhadap stabilitas ekonomi global.
Selain itu, harga minyak mentah dunia yang masih tinggi turut menekan mata uang negara berkembang. Indonesia sebagai negara pengimpor minyak menghadapi risiko meningkatnya biaya impor energi ketika harga minyak dan dolar AS sama-sama naik. Situasi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Pasar juga menunggu pengumuman MSCI yang diperkirakan tidak memberikan sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. Kekhawatiran mengenai potensi penurunan peringkat beberapa saham besar membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset berisiko termasuk rupiah dan IHSG.
Pemerintah dan BI Diminta Antisipasi Kurs USD IDR
Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah dan Bank Indonesia segera mengambil langkah antisipasi terhadap pelemahan rupiah. Menurutnya, dampak tekanan global harus dikendalikan agar tidak membuat kondisi ekonomi nasional semakin terpuruk.
Puan menegaskan bahwa pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi tidak hanya untuk tahun 2026 tetapi juga hingga 2027. DPR juga akan membahas strategi fiskal melalui Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF untuk APBN 2027.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelemahan USD IDR kini menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi memengaruhi inflasi, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.
Prospek USD IDR dan Rupiah Masih Berisiko Melemah
Pelaku pasar masih memantau sejumlah sentimen penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Investor menunggu data penjualan ritel Indonesia yang diperkirakan tumbuh 6,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 6,5 persen.
Namun tekanan eksternal diperkirakan masih mendominasi pasar. Konflik geopolitik, penguatan dolar AS, dan tingginya harga minyak dunia diprediksi tetap membayangi pergerakan rupiah. Analis memperkirakan kurs rupiah bergerak di rentang Rp17.350 hingga Rp17.500 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Jika tekanan global terus meningkat, rupiah berpotensi kembali mencetak rekor pelemahan baru. Karena itu, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku pasar menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
👁 1127 kali
👁 1275 kali
👁 1589 kali
👁 1573 kali
👁️ Dilihat 16 kali




