Tekanan Nilai Tukar Asia Kian Meluas
Pergerakan nilai tukar mata uang Asia kembali berada di zona merah pada perdagangan Senin (11/5/2026). Penguatan dolar Amerika Serikat membuat mayoritas mata uang di kawasan Asia melemah terhadap greenback. Kondisi ini dipicu meningkatnya permintaan investor terhadap aset aman di tengah ketidakpastian global.
Rupiah ikut mengalami tekanan dan turun 0,23% ke level Rp17.400 per dolar AS. Meski demikian, pelemahan rupiah masih lebih baik dibandingkan beberapa mata uang Asia lainnya. Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,81%, disusul won Korea Selatan yang melemah 0,72% dan peso Filipina yang terkoreksi 0,69%.
Selain rupiah, yen Jepang, dolar Taiwan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura juga bergerak melemah. Hanya dong Vietnam dan yuan China yang masih mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan pagi ini. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan penguatan dolar AS masih mendominasi pasar keuangan Asia.
Dolar AS Menguat karena Konflik Geopolitik
Penguatan dolar AS terjadi setelah pasar kembali dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menolak proposal damai Iran dan menyebut tawaran tersebut “totally unacceptable”. Pernyataan itu langsung meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi konflik yang lebih panjang di kawasan Timur Tengah.
Iran dilaporkan hanya bersedia memindahkan sebagian uranium yang telah diperkaya ke negara ketiga, tetapi tetap menolak pembongkaran fasilitas nuklir utama. Ketegangan ini membuat pelaku pasar kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.
Indeks dolar AS atau DXY pun menguat 0,14% ke level 98,038. Ketika indeks dolar naik, tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang biasanya ikut meningkat. Kondisi tersebut membuat mata uang Asia sulit bergerak stabil dalam jangka pendek.
Data Ekonomi AS Perkuat Posisi Dolar
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga memperoleh dukungan dari data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan. Data nonfarm payrolls Amerika Serikat menunjukkan penambahan tenaga kerja sebanyak 115.000 pada April 2026. Angka tersebut jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 62.000 tenaga kerja.
Data tersebut memperkuat keyakinan bahwa bank sentral AS, yaitu Federal Reserve, masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global.
Pelaku pasar kini menunggu data inflasi AS sebagai petunjuk arah kebijakan berikutnya. Jika inflasi masih tinggi, peluang penurunan suku bunga akan semakin kecil. Situasi itu berpotensi menjaga penguatan dolar AS dan kembali menekan nilai tukar mata uang Asia, termasuk rupiah.
Bank Besar Mulai Jual Dolar di Atas Rp17.700
Pelemahan rupiah juga terlihat dari kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar Indonesia. Beberapa bank mulai menjual dolar di atas Rp17.700 per dolar AS untuk transaksi uang kertas atau bank notes.
PT HSBC Indonesia mencatat kurs jual bank notes tertinggi di level Rp17.705 per dolar AS. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk menjual dolar pada kisaran Rp17.570 per dolar AS untuk transaksi counter dan uang kertas.
Di sisi lain, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk juga mencatat pelebaran spread kurs dibanding harga spot global. Kondisi ini menunjukkan permintaan dolar AS di pasar domestik masih cukup tinggi seiring tekanan terhadap rupiah yang belum mereda.
Prospek Rupiah Masih Dipengaruhi Sentimen Global
Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan konflik AS-Iran dan arah kebijakan suku bunga AS. Investor juga terus memantau situasi di Selat Hormuz yang masih menjadi pusat perhatian pasar energi dunia.
Meski demikian, sentimen domestik Indonesia masih relatif positif. Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen April 2026 berada di level 123,0. Angka tersebut menandakan masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.
Namun, selama dolar AS tetap kuat dan tensi geopolitik global belum mereda, tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlangsung. Pelaku pasar kini menanti perkembangan inflasi AS dan hasil pertemuan diplomatik antara AS dan China yang berpotensi memengaruhi arah pasar keuangan global dalam beberapa pekan ke depan.
👁 1862 kali
👁 1120 kali
👁 1270 kali
👁 1661 kali
👁️ Dilihat 8 kali




