ADRO Raup Laba USD309 Juta pada Semester I 2026
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026. ADRO raup laba USD309 juta atau tepatnya USD309,36 juta hingga 30 Juni 2026. Perolehan tersebut meningkat 76,83 persen dibandingkan laba pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD174,94 juta. Selain itu, pendapatan usaha perseroan juga tumbuh 16,51 persen menjadi USD999,24 juta dari sebelumnya USD857,69 juta. Kinerja tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri komoditas.
Segmen Pertambangan Jadi Penopang Pendapatan
Pertumbuhan pendapatan ADRO terutama berasal dari beberapa lini bisnis utama. Segmen pertambangan memberikan kontribusi sebesar USD581,80 juta. Selanjutnya, jasa pengolahan pertambangan menyumbang USD470,81 juta, sedangkan pendapatan dari segmen lain mencapai USD28,87 juta. Dengan demikian, aktivitas pertambangan dan pengolahan tetap menjadi bagian penting dalam menopang kinerja perusahaan. Di sisi biaya, beban pokok pendapatan tercatat USD576,55 juta. Meskipun demikian, ADRO berhasil meningkatkan laba kotor menjadi USD422,68 juta dari USD284,27 juta pada semester I 2025.
Laba Usaha ADRO Melonjak 87,76 Persen
Selain pertumbuhan pendapatan, efisiensi beban usaha turut memperkuat kinerja ADRO. Perseroan mencatat beban usaha sebesar USD58,34 juta, turun dari USD60,34 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membantu laba usaha melonjak menjadi USD381,76 juta dari USD203,32 juta. Artinya, laba usaha tumbuh sekitar 87,76 persen secara tahunan. Kemudian, laba periode berjalan mencapai USD329,19 juta atau naik 68,87 persen. Pada akhirnya, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai USD309,36 juta.
Aset dan Pembiayaan Proyek Ikut Meningkat
Di sisi neraca, total aset ADRO per 30 Juni 2026 mencapai USD7,80 miliar. Angka tersebut meningkat dari USD6,81 miliar pada akhir 2025. Kenaikan aset antara lain berkaitan dengan pertumbuhan persediaan, aset tetap, aset hak guna, serta persediaan aluminium ingot. Namun, total liabilitas juga meningkat menjadi sekitar USD2,68 miliar dari USD1,81 miliar. Kenaikan tersebut terutama berkaitan dengan perjanjian sewa baru serta peningkatan utang bank jangka panjang untuk mendukung pembiayaan proyek smelter aluminium. Sementara itu, ekuitas perseroan mencapai sekitar USD5,13 miliar.
Prospek Bisnis dan Pergerakan Saham ADRO
Kinerja semester I 2026 memberikan gambaran positif terhadap fundamental ADRO. Selain bisnis pertambangan, perusahaan terus mengembangkan lini usaha yang berkaitan dengan pengolahan mineral dan aluminium. Strategi tersebut dapat memperluas sumber pendapatan perusahaan dalam jangka panjang. Pada perdagangan 28 Agustus 2026, saham ADRO ditutup turun 1,11 persen ke level Rp2.670 per saham. Namun, secara year-to-date, saham tersebut masih mencatat penguatan 47,51 persen berdasarkan data yang diberikan. Karena itu, investor tetap perlu memperhatikan kinerja keuangan, perkembangan proyek, harga komoditas, serta kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
👁 3443 kali
👁 2375 kali
👁 2858 kali
👁 2443 kali
👁️ Dilihat 12 kali




