Dony Oskaria Ungkap Kompleksitas BUMN Karya
Dony Oskaria BUMN Karya menjadi perhatian setelah Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN itu mengungkap perkembangan restrukturisasi perusahaan konstruksi pelat merah. Menurut Dony, persoalan BUMN Karya tidak hanya berkaitan dengan perusahaan induk atau holding. Beban liabilitas yang besar juga menjalar ke anak hingga cucu perusahaan. Karena itu, Danantara harus menangani persoalan tersebut secara bertahap dan mendalam. Dony menyebut sejumlah BUMN Karya memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Kondisi tersebut membuat proses penyehatan membutuhkan waktu dan perhitungan yang matang. Selain persoalan keuangan, Danantara juga harus memperhatikan dampak restrukturisasi terhadap pekerja, kreditur, investor, kontraktor, serta ekosistem industri konstruksi.
Utang Besar Jadi Hambatan Restrukturisasi
Menurut Dony, beban utang menjadi salah satu persoalan utama yang menghambat restrukturisasi BUMN Karya. Total kewajiban perusahaan-perusahaan tersebut bahkan mencapai ratusan triliun rupiah. Karena itu, Danantara tidak ingin mengambil keputusan secara terburu-buru. Opsi seperti merger atau kepailitan memang dapat mempercepat penyelesaian, tetapi langkah tersebut berpotensi menimbulkan dampak luas. Danantara memilih memeriksa kondisi setiap perusahaan satu per satu. Langkah tersebut mencakup pemeriksaan model bisnis, struktur biaya, kewajiban, serta kondisi anak perusahaan. Dengan pendekatan tersebut, Dony berharap perusahaan BUMN Karya dapat kembali memiliki fundamental yang sehat dan model bisnis yang kompetitif. Proses ini juga menjadi bagian dari upaya Danantara melakukan turnaround terhadap perusahaan yang masih menghadapi persoalan keuangan.
Merger Tujuh BUMN Karya Bergeser ke Kuartal IV
Rencana penataan BUMN Karya juga mengalami perubahan jadwal. Pemerintah sebelumnya menargetkan proses merger sejumlah perusahaan konstruksi rampung pada Juni 2026. Namun, kompleksitas persoalan membuat target tersebut bergeser ke kuartal IV 2026. Tujuh BUMN Karya yang masuk dalam rencana penataan meliputi Hutama Karya, Waskita Karya, Wijaya Karya, Adhi Karya, PP, Brantas Abipraya, dan Nindya Karya. Dony belum dapat memastikan proses restrukturisasi akan selesai tepat waktu. Meski begitu, ia tetap mengupayakan penyelesaian pada akhir 2026. Selain masalah utang, Danantara masih menghadapi berbagai persoalan hukum dan proyek yang melibatkan anak usaha BUMN Karya. Oleh sebab itu, penyelesaian harus berjalan secara hati-hati agar tidak menimbulkan masalah baru.
Dony Oskaria Tanggapi Risiko Delisting WIKA dan Waskita
Dony Oskaria BUMN Karya juga menanggapi risiko penghapusan pencatatan saham atau forced delisting terhadap PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Kedua emiten tersebut menghadapi persoalan yang berkaitan dengan suspensi perdagangan dan kondisi keuangan perusahaan. Namun, Dony menegaskan bahwa mempertahankan saham tetap tercatat di Bursa Efek Indonesia bukan menjadi prioritas utama. Menurutnya, Danantara harus terlebih dahulu memperbaiki fundamental perusahaan. Jika perusahaan tetap berada di bursa tetapi kondisi fundamentalnya belum sehat, kondisi tersebut justru dapat merugikan investor. Karena itu, keputusan mengenai status WIKA dan Waskita akan mengikuti hasil proses penyehatan dan transformasi perusahaan. Danantara akan mengkaji berbagai risiko sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Danantara Fokus Menyehatkan Fundamental Perusahaan
Pada akhirnya, Dony menegaskan bahwa restrukturisasi BUMN Karya bukan sekadar menggabungkan perusahaan atau mempertahankan status emiten di bursa. Danantara ingin memastikan setiap perusahaan memiliki kondisi fundamental yang benar-benar sehat. Proses tersebut mencakup penataan utang, pembenahan anak usaha, evaluasi model bisnis, serta pengendalian struktur biaya. Dengan begitu, perusahaan dapat kembali beroperasi secara kompetitif dan berkelanjutan. Meskipun Danantara mengupayakan restrukturisasi selesai pada akhir 2026, Dony belum memberikan kepastian karena dinamika penyelesaian masih cukup rumit. Perkembangan selanjutnya akan menentukan masa depan sejumlah BUMN Karya, termasuk WIKA dan Waskita. Fokus utama pemerintah kini adalah menyelesaikan akar persoalan agar proses transformasi menghasilkan perusahaan yang lebih sehat, bukan sekadar mempertahankan tampilan perusahaan di pasar modal.
👁 3306 kali
👁 2287 kali
👁 2597 kali
👁 2057 kali
👁️ Dilihat 9 kali




