BBCA Bertahan Saat Saham Bank Melemah di Bursa
BBCA bertahan saat saham bank melemah menjadi sorotan pada perdagangan Senin 18 Mei 2026. Di tengah tekanan sektor perbankan akibat sentimen global dan domestik, saham PT Bank Central Asia Tbk berhasil ditutup di zona hijau ketika mayoritas saham bank besar justru mengalami koreksi. Harga saham BBCA naik 0,41 persen menjadi Rp6.125 per saham dan menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibanding emiten bank lainnya.
Sebaliknya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI turun 1,92 persen menjadi Rp3.060. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BBNI juga melemah 1,81 persen menjadi Rp3.800, sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI terkoreksi 1,67 persen ke level Rp4.130. Kondisi serupa terjadi pada saham PT Bank Tabungan Negara Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk yang sama-sama ditutup di zona merah.
Kinerja Laba BBCA Masih Tumbuh Positif
Kinerja keuangan BCA menjadi faktor utama yang menjaga optimisme investor terhadap saham BBCA. Hingga April 2026, BCA berhasil membukukan laba bersih bank-only sebesar Rp20,8 triliun atau tumbuh 3 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut dinilai masih solid di tengah perlambatan ekonomi nasional dan tekanan pasar saham perbankan.
Selain itu, pendapatan non-bunga BCA meningkat 8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2026 saja, laba bersih bulanan BBCA mencapai Rp4,8 triliun. Pertumbuhan laba tersebut juga dianggap sesuai dengan ekspektasi analis karena sudah mencapai sekitar 34 persen dari target konsolidasi sepanjang tahun 2026.
Strategi Konservatif BBCA Jaga Profitabilitas
BBCA memilih strategi konservatif untuk menjaga kualitas aset dan profitabilitas perusahaan. Penyaluran kredit korporasi memang tumbuh lebih lambat menjadi Rp965,01 triliun atau naik sekitar 5 persen secara tahunan. Namun, manajemen mengalihkan sebagian dana ke instrumen surat berharga yang meningkat 17,55 persen menjadi Rp425,41 triliun.
Strategi tersebut berhasil menekan beban provisi hingga turun 16 persen secara tahunan menjadi Rp1,06 triliun. Dampaknya, rasio cost of credit BBCA tetap rendah di level 0,3 persen. Sementara itu, dana pihak ketiga tumbuh agresif sebesar 8,56 persen menjadi Rp1.246,05 triliun. Dominasi dana murah melalui giro dan tabungan juga menjaga rasio CASA tetap kuat di level 84,97 persen.
Investor Asing Borong Saham BBCA
Minat investor asing terhadap saham BBCA masih terlihat tinggi pada perdagangan Senin 25 Mei 2026. Saham BBCA melonjak hampir 3 persen menuju level Rp6.075 per saham setelah sebelumnya sempat tertekan selama dua hari perdagangan berturut-turut. Volume transaksi saham BBCA juga mencapai lebih dari 99 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp594,69 miliar.
Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp201,1 miliar pada saham BBCA. Nilai tersebut menjadi salah satu yang terbesar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia pada hari itu. Karena itu, saham BBCA kembali menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan pada sektor perbankan.
Rekomendasi Analis untuk Saham BBCA 2026
Beberapa lembaga sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Stockbit Sekuritas menilai pertumbuhan laba BCA masih sesuai dengan estimasi pasar dan mencerminkan fundamental perusahaan yang solid. Di sisi lain, Ciptadana Sekuritas Asia memberikan target harga Rp9.200 per saham karena valuasi BBCA dianggap masih menarik dibanding rata-rata historis.
Sementara itu, MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli meski menurunkan target harga menjadi Rp8.700 per saham. Analis menilai efisiensi operasional, kualitas likuiditas, dan permodalan kuat akan membantu BBCA menjaga ketahanan laba pada masa mendatang. Oleh sebab itu, BBCA masih dipandang sebagai salah satu saham perbankan terbaik untuk investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian pasar.
👁 1988 kali
👁 1303 kali
👁 1303 kali
👁 1857 kali
👁 1497 kali
👁 1793 kali
👁 2312 kali
👁 1701 kali
👁️ Dilihat 10 kali








